July 06, 2012

Asam Demar Desa Sialingan


                Asam Demar  merupakan tempat awal Pemakaman warga Sialingan yang meninggal. Tepatnya kurang lebih 1 km di arah Barat Daya Desa Sialingan atau biasa juga disebut dengan daerah Seberang Hulu Sugai Pasang. Di tempat inilah pemakaman warga Sialingan pertama kali sebelum pindah ke Talang Ilir. Karena dahulunya Talng Ilir (sebelah utara Talang Ilir) hanya tempat pemakaman anak-anak saja atau biasa disebut Tambak Budak. Setelah proses pemakaman orang dewasa mulai dimakakamkan atau dicampurkan  dengan  anak-anak di Tambak Budak, maka Asam Demar dijadikan  tempat pemakaman alternatif disaat ada warga yang enggan memakamkan keluarganya dimakamkan di tempat Talng Ilir. Oleh karena itu Asam Demar disebut juga Awal Sejarah Pemakaman Warga Sialingan. (Wawancara dengan Mak Yuha/ warga Sialingan tahun 2012)
Berikut adalah fotonya pada masa tahun 2012 :


Legenda Kelka Tuan Desa Sialingan


                Kelka Tuan adalah tempat pemakaman kuno di wilayah Sialingan. .   Tempat ini berada di kurang lebih satu kilometer di sebelah Utara Desa Sialingan. Tepatnya di antara Sungai Manau dan Sungai Leting. Kalau mau pergi Ke Desa Tanjung Bunut, maka tempat ini berada di sebelah kiri jalan, agak masuk sekitar 100 meter. Menurut cerita Kabarnya puyang Rambang menikahi Puyang Tampui di Lembak. Puyang rambang ini juga sempat menguasai  Lubok Perau (lubuk perahu) atau tempat perahu dagang orang hilir berkumpul untuk berjualan ke Sialingan. saat puyang Rambang (raja geni)ingin pulang ke rambang dari menjenguk isterinya Puyang Tampui di Lembak,  mendadak ia sakit dan akhirnya meninggal . Untuk kemudian dimakamkan di Kelka Tuan. Namun pada masa sekarang Keadaannya hampir tidak bisa dikenali karena telah berbentuk kebun karet semua, hanya ada bekas-bekas kuburan yang jebol saja sebagai tanda bahwa tempat ini memang benar dahulunya tempat pemakaman. 

Berikut adalah fotonya pada  tahun 2012 :

Kilasan Cerita Tambak Budak desa Sialingan

                Tambak Budak (kuburan anak) adalah tempat pemakaman anak yang meninggal.  Tempat ini letaknya kurang lebih 400 meter dari Sialingan. Atau tepatnya disebelah utara pemakaman sekarang (Talang Ilir). Tempat pemakaman anak sengaja dipisahkan entah karena apa, yang jelasnya hal ini telah terjadi pada suatu masa dahulu.

Sejarah Boran Satu Sialingan


                Boran pertama atau biasa disebut boran satu merupakan tempat pertama sekali pengeboran minyak bumi untuk wilayah komplek Pertamina Sialingan Kecamatan Lembak Kabupaten Muara Enim. Boran ini pertama kali dilakuakan pada zaman penjajahan Belanda  sekitar tahun 1915-an  oleh pihak Belanda sendiri yang nama perusahaannya dahulu adalah BPM (Batapso Patarlio Maskapai) . Mengingat dahulunya semua kekuasaan dan  perusahaan ada di tangan Belanda, jadi pada saat itu Belanda berkuasa penuh untuk menggaruk keuntungan di daerah khususnya Sialingan. (Wawancara Dengan Dapsena, Petua Sialingan tahun 2011)

                Mengenai nama perusahaan asal muasal nama Perusahaan Pertamina adalah yang pertama BPM (Batapso Patarlio Maskapai), kemudian PT Sell, setelah itu baru Pertamina (Pertambangan Minyak Nasional). Nama-nama ini berganti seiring perubahan waktu dan pergantian para pemegang perusahaan itu sendiri. Jadi sejarah nama Pertamina juga mempunyai catatan di wilayah Desa Sialingan. (Wawancara dengan Sobri/ Ketua Adat desa Sialingan tahun 2012) 

                Boran ini terletak di Wilayah Timur kampung dua Desa Sialingan atau biasa disebut dengan kampung seberang tepatnya di atas tebing setelah sungai Hulu Beton (Sungai Di Tengah Desa Sialingan). Namun, seiring berjalannya waktu, maka perubahan demi perubahan terus terjadi, sampai sekarang ini tempat ini telah berubah menjadi tempat kegiatan Tambak Ikan dan Pembibitan tumbuhan yang dikelola oleh Karang Taruna beserta pihak trekait lainnya. Dengan ini menyatakan bahwa keadaan tempat ini tidaklah menjadi ciri khas lagi tempat bersejrah dikarenakan terjadi perombakan dan demi penggunaan lahan secara lebih potensial.

Berikut adalah fotonya  pada tahun 2012


February 22, 2012

Sedekah Bedusun Dilakukan Kembali tahun 2010


    Sedekah berdusun adalah sedekah yang dilakuakan setahun sekali. Kegiatan ini menggambarkan sebagai bentuk pengucapan rasa terimakasih kepada Tuhan sekali gus sebagai do’a supaya masyarakat Dusun/ Desa tersebut terhindar dari berbagai balak dan bencana. Kegiatan ini juga menyimbolkan adat tahunan  yang biasanya dilakuakan setahun sekali sebagai bentuk adat warisan dari nenek moyang desa tersebut.

    Di Desa Sialingan Sedekah Berdusun sudah lama tidak dilakukan, terakhir sekali dilakukan sekitar tahun 1957, kemudian dilakukan kembali pada tahun 2010. Waktu tersebut menunjukkan rentang yang sangat lama. Beberapa dari  pendapat masyarakat menjelaskan bahwa yang menyebabkan Sedekah Berdusun sudah lama tidak dilakukan adalah karena menganggap sedekah berdusun sebagai bentuk kesyirikan kepada Tuhan. Hal ini ditandai dengan adanya prosesi penyambatan kemenyan dan persembahan kepala Binatang – sapi atau kerbau- kepada roh halus penunggu Desa tersebut. Namun, setelah berkembangnya pemikiran, maka ditemukannya cara supaya bentuk ritual tersebut tidak lagi terkesan syirik dengan cara tidak lagi melakukan prosesi penyambatan kemenyan dan menggantinya dengan membaca ayat-ayat Al-Quran dan do’a-doa yang terkesan islami. Ini menandakan rutinitas prosesi sedekah bedusun di Desa Sialingan akan dilakukan kembali sebagai adat tahunan.

Berikut adalah foto-foto acara Sedekah Berdusun yang dilaksanakan pada tahun 2010.










Bidadari Mandi di Gejah Mati desa Sialingan

   
    Dahulu masyarakat Sialingan percaya bahwa pelangi merupakan selendang Bidadari yang sedang mandi ke bumi. Konon mandinya di Gejah Mati atau sebelah utara kampung dua Sialingan. Kepercayaan ini sempat bertahan lama bahkan puluhan  tahun, sampai asimilasi pendidikan menyatakan  bahwa pelangi bukanlah selendang bidadari, melainkan fenomena alam biasa yang disebabkan oleh titik-tititk hujan yang terkena sinar matahari.

    Kepercayaan inipun runtuh, namun Legenda bidadari terus ada dalam sejarah. Seperti cerita Si Pahit Lidah yang mengutuk bidadari yang sedang mandi. Bidadari tersebut sangat sombong kepada Si Pahit Lidah, sampai ia berkata”Bidadari itu sombong seperti batu,” dan kahirnya bidadari pun menjadi batu. Namun, cerita ini ini belum dapat dipastikan oleh masyarakat Sialingan, kareana penyampaiannya hanya dari mulut ke mulut.

    Menurut pengakuan Sobri—ketua adat  Sialingan—menyatakan bahwa bidadari itu tak dapat dilihat karena  hanya berbentuk bayangan yang berwarna-warni. Dan menurutnya, ia sendiri pernah terkena warna itu, perasaannya melayang-layang dan sedikit dihantui rasa takut, seperti perasaan mau mati. Namun, setelah beberapa saat bayangan warna tersebut hilang dan perasaannya normal kembali. Menurutnya itulah bidadari yang turun mandi, namun kita tidak dapat melihatnya secara kasat mata.

    Dalam situs wikipedia dijelaskan bahwa bidadari itu merupakan makhluk kepercayaan Hindu. Ia bertugas untuk menyampaikan pesan dari kayangan  kepada manusia dan juga untuk menguji para petapa (orang-orang yang bertapa) untuk menentukan kekuatan para petapa tahan uji atau tidak.  Dengan ini bidadari bisa disebut juga makhluk kepercayaan hindu pada zaman persebaran agama hindu masuk ke Indonesia.

    Dalala Al-Qur’an dijelaskan bahwa bidadari merupakan makhluk surga yang cantik jelita. Disebutkan juga belum pernah ada yang melihat ataupun menyentuhnya baik itu dari golongan manusia maupun dari golongan jin. Oleh karena itu sebatas ini pembahasan keberadaan bidadari yang turun ke bumi masih rancu, tergantung kepercayaan, adat, dan agama masing-masing.

    Apakah benar itu bidadari-atau hanya kepercayaan atau juga ada jenis makhluk lain yang belum terlalu dikenal oleh manusia secara pasti.Sebatas ini mengenai keberadaan bidadari masih berupa legenda dan perlu data dan penjelasan yang lebih akurat. 

February 05, 2012

Hujan Salju di Sialingan

    Hujan salju di Indonesia sangat jarang terjadi apalagi di dataran sedang. Pernah hujan salju terjadi di daerah pegunungan. Hal ini memang wajar, karena daerah pegunungan udaranya dingin dan memang terkadang berpotesial untuk turun salju.



    Di Sialingan, menurut saksi mata bercerita, memang telah terjadi hujan salju, katanya “sekitar tahun 1986, saat aku melahirkan anakku yang kedua.  Pada saat itu tampak bongkahan es yang berjatuhan sebesar pergelangan tangan.” Cerita ini hapir sulit dipercaya, karena di daerah dataran sedang  Indonesia, sangat sulit  turun salju, namun saksi mata menjelaskan bahwa dia memang pernah melihatnya secara langsung dan keberlangsungannya terjadi khususnya di Desa Sialingan. Petua Sialingan-- Tua Oden--, pada saat  itu berkata “ kalu ade ujan salju biasana bumi mpai nak rame/ Kalau terjadi hujan salju, maka prediksi menjelaskan bahwa dunia akan semakin rame dan semakin maju).
(Wawancara dengan Munia bin Sobri/ Warga Desa Sialingan pada tahun 2012).

    Setelah itu terjadi lagi hujan salju, namun tidak sampai ke tengah desa. Hanya di daerah tanah rambang atau tepatnya kurang lebih 3 kilometer di arah Barat Daya Sialingan. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2003, saat saksi mata sedang berada di ladangnya. Tampak bongkahan es, yang berjatuhan sebesar ibu jari, kemudian mencair dan hilang. Hujan ini tidak berlangsung terlalu lama, namun menandakan bahwa Hujan salju memang benar-benar ada meskipun tidak di daerah pegunungan.

    Dari cerita saksi mata di atas menjeaskan bahwa di Sialingan memang telah terjadi hujan salju, penyebab berita ini menjadi kabur adalah karena penyampaiannya hanya dari mulut ke mulut. Sehingga perolehan data menjadi rancu dan tidak akurat. Namun, setelah bebearapa orang saksi menegaskan, maka didapati kesamaan cerita yang sama-dan peristiwa yang sama. Oleh karena tu mengenai hujan salju di Silingan, boleh dipercaya karena sumber datapun telah kuat memberikan penjelasan.